Kasus Pembobolan BNI Rp 1,7 triliun

Tersangka 12, Ditahan Sembilan

Satu lagi pengusaha yang diduga terlibat kasus pembobolan dana Bank Negara Indonesia (Bank BNI) senilai Rp 1,7 triliun dengan menggunakan surat kredit (L/C) fiktif ditahan di Markas Besar Kepolisian RI. Pekan lalu, polisi berhasil menangkap dan menahan tiga pengusaha yang diduga membobol Bank BNI. Jumat (14/11), Badan Reserse Kriminal Mabes Polri secara resmi menahan dr Titik Pristiwanti (Direktur PT Bhinekatama Pacific).

“Jumat pagi kami mengeluarkan surat perintah penahanan terhadap Titik Pristiwanti. Surat penahanan ini kami buat segera karena peraturannya tidak boleh lebih dari 24 jam dari waktu penangkapan,” kata Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komisaris Jenderal (Pol) Erwin Mappaseng, Jumat kemarin.

Menurut Mappaseng, pihaknya terus memeriksa Titik sejak Kamis malam. Namun, ia tidak mau mengungkapkan hasil pemeriksaan tersebut. Mappaseng juga menolak mengungkapkan kendala polisi dalam menangkap Titik, sehingga terkesan lama.

Mappaseng menyatakan, setelah diimbau serta diajak menyelesaikan masalah ini di Mabes Polri, akhirnya Titik mau menyerahkan diri. Diharapkan, sikap kooperatif Titik ini dapat diikuti oleh dua tersangka lainnya, yaitu Adrian Herling Waworuntu (pemilik PT Gramarindo Mega Indonesia) dan Maria Paulina Lumowa alias Ny Erry (juga pemilik PT Gramarindo Mega Indonesia). Maria Lumowa adalah warga negara Belanda yang diduga sebagai tersangka utama pembobol dana BNI.

Dengan ditahannya dr Titik, jumlah tersangka pembobol Bank BNI yang ditahan bertambah satu menjadi sembilan. Tujuh tahanan merupakan pengusaha yang diduga terkait pembobolan BNI. Adapun dua lainnya pejabat di Kantor BNI Cabang Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Ketujuh pengusaha yang ditahan tersebut adalah Ny Yudi Baso (Direktur PT Basomindo), Jeffery Baso (pemilik PT Basomasindo dan PT Trianu Caraka Pacific), Aprilia Widharta (Direktur Utama PT Pan Kifros).

Selain itu Haji Ollah Abdullah Agam (Direktur PT Gramarindo Mega Indonesia), Adrian Pandelaki Lumowa (Direktur PT Magnetique Usaha Esa Indonesia), Richard Kountul (Direktur PT Metrantara), dan dr Titik. Haji Ollah, Adrian Lomuwa, dan Richard ditangkap polisi Kamis pekan lalu.

Adapun dua tersangka dari BNI yang ditahan di tahanan Mabes Polri adalah Edy Santosa (mantan Kepala Bagian Customer Service Luar Negeri pada Kantor Utama Cabang Bank BNI Kebayoran Baru) dan Kusadiyuwono (mantan Kepala Kantor Utama Cabang Bang BNI, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan).

Menanggapi masih lambannya kinerja polisi dalam menangkap Adrian Waworuntu dan Maria Paulina, Mappaseng menyatakan bahwa polisi akan terus berusaha keras untuk menangkapnya. Selain itu, polisi juga sudah melakukan berbagai upaya, termasuk berkoordinasi dengan lembaga kepolisian di dalam negeri maupun badan-badan kepolisian di luar negeri.

Adrian Waworuntu, kata Mappaseng, dipastikan masih berada di Indonesia. Pasalnya, sejak polisi menetapkannya sebagai tersangka, semua akses ke luar negeri sudah ditutup. Adapun Maria Paulina, diperkirakan masih berada di Singapura.

“Kita mengimbau dan berharap, tentunya dengan kesadaran mereka supaya mau menyerahkan diri dan menyelesaikan masalah ini di Mabes,” kata Mappaseng.

Loloskan empat L/C

Mappaseng menyatakan, Mabes Polri telah memeriksa Nirwan Ali, Manajer Operasional bank BNI cabang Kebayoran Baru. Pejabat Bank BNI di tingkat kantor cabang tersebut dijadikan tersangka karena diduga meloloskan empat slip L/C yang telah dimanipulasi ketika untuk sementara waktu menggantikan Edy Santosa pergi haji.

Namun, Nirwan hingga Jumat belum ditahan. Pasalnya, ia sedang menderita sakit jantung dan harus dirawat di rumah sakit. “Nirwan dipanggil untuk yang kedua kali setelah panggilan pertama tidak datang karena sakit jantung. Ia sedang kami periksa, tapi belum ditahan karena sakit jantung” kata Direktur II Ekonomi Khusus Mabes Polri Brigadir Jenderal Samuel Ismoko.

“Kalau bukti-bukti awal cukup serta kesehatannya membaik, akan kami tahan,” kata Ismoko.

Pada saat diperiksa tim pemeriksa internal dari BNI, kata Ismoko, Nirwan menyatakan ia sama sekali tidak terlibat kasus tersebut. Ia menegaskan dirinya sama sekali tidak menerima uang. Bahkan, Nirwan menyatakan kalau selama ini ia telah dibohongi oleh Edy Santosa.

Mappaseng menyatakan, Nirwan dijadikan tersangka karena meloloskan empat slip L/C ketika menggantikan Edy Santosa. Ia tidak bersedia menyebutkan nilai nominal dari empat L/C fiktif tersebut. “Tetapi ia masih akan kami periksa. Kita akan cross check keterangannya nanti,” kata Mappaseng.

Tangkap

Erwin Mappaseng terkesan marah ketika ditanya lagi mengapa Adrian Waworuntu belum ditangkap juga. “Maaf saya harus pergi, saya harus pergi,” kata Mappaseng, yang sebelumnya menjawab pertanyaan wartawan seputar Azahari di tangga Gedung Bareskrim.

Ketika wartawan mengatakan Waroruntu ada di rumahnya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Mappaseng dengan mimik marah mengatakan, “Kalau tahu di mana dia, tangkap saja sendiri.” Ia bergegas masuk ke dalam mobilnya, lalu menutup pintu mobil dengan keras.

Nada marah tertangkap dalam jawaban Brigjen Samuel Ismoko yang ditanya per telepon mengenai lambannya ia menangkap Waworuntu. Apalagi ketika disinggung bahwa buronan itu ada di rumahnya di Kemang. Namun demikian sebelum mematikan pembicaraan per telepon itu, Samuel Isamoko mengatakan, ia dan tim penyidiknya tengah men-down load kasus pembobolan dana Rp 1,7 triliun milik BNI ini dengan seksama.

“Jangan hanya memikirkan kepentingan pemberitaan saja. Coba pikirkan juga kepentingan penyidikan kami. Saat ini kami dengan men-down load kasus ini dari bawah. Jadi, kalau nangkap dia tidak asal tangkap. Enggak enak kan kalau nangkap dia tapi kami belum punya dasar yang kuat,” katanya.

Tuntas dan Transparan

Yang kalem menanggapi pertanyaan lambannya Mabes Polri menangkap Adrian Waworuntu adalah Wakil Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Sunarko. “Kami benar-benar tidak tahu keberadaan dia. Karena itu informasi ini akan saya terusakan ke Kabareskrim,” kata Sunarko sambil mencatat alamat Adrian Waworuntu di kawasan Kemang.

Sunarko menegaskan, belum ditangkapnya Adrian karena belum teridentifikasi keberadaannya. “Tidak ada perbedaan sikap dari kepolisian dalam mendekatkan aturan hukum kepada orang-orang yang secara langsung terlibat dalam kasus BNI,” katanya, ketika disinggung kemungkinan ada pertimbangan tertentu sehingga Mabes Polri sampai kemarin belum menangkap Adrian Waworuntu.

Ia menyatakan catatan tentang kritik lambannya Polri menangkap Adrian Waworuntu dan Ny Erry, dua orang kunci kasus pembobolan BNI, serta adanya “tuduhan” Polri sengaja menyembunyikan Adrian, segera akan disampaikan ke pada pimpinan Polri.

“Saya juga akan meneruskan ke Kabareskrim pertanyaan wartawan tentang kebenaran hanya dua tersangka kasus BNI yang ditahan di Bareskrim, sedangkan lainnya diinapkan di sebuah hotel itu Kebayoran baru. Informasi yang saya dapat dari Bareskrim, semua tersangka diperiksa di Mabes Polri dan ditahan di sel tahanan Bareskrim Mabes Polri,” kata Sunarko.

Ia juga menegaskan, Kepala Polri Jenderal Da’i Bachtiar sangat jelas sikapnya dalam kasus pembobolan dana BNI tersebut. “Beliau memerintahkan periksa dan sidik kasus BNI tuntas dan transparan,” katanya.

Sunarko menegaskan, kasus pembobolan dana BNI itu adalah kasus pidana. “Kasus pidananya sudah terjadi dan sudah ada tersangka yang ditahan. Kasus ini akan berlanjut,” katanya, ketika ditanya nasib penyidikan kasus ini, andaikan antara korban (BNI) dengan para tersangka/pelaku pembobolan terjadi deal tertentu, demi Rp 1,7 triliun bisa dikembalikan untuh ke BNI.

Akan Datang

Sementara itu seorang laki-laki yang menyatakan diri sebagai Adrian Waworuntu menghubungi Kompas per telepon. Orang tersebut yang memakai telepon Jakarta bernomor 739XXXX menyatakan terima kasih karena telah menelepon dan meninggakan pesan di telepon selulernya. Ia mengatakan tahu sedang dicari-cari polisi namun belum bisa datang ke Mabes Polri.

“Saya akan datang nanti,” katanya, tanpa bersedia menyebut waktu pastinya, ketika disinggung kalau merasa tidak bersalah mengapa tidak memenuhi panggilan polisi.

Harapan para pelaku pembobol dana BNI segera ditangkap polisi, diungkap Direktur Utama BNI Saifuddien Hasan. “Kasus ini sudah diserahkan ke polisi. Mereka yang punya kewewenangan menangkap para pelakunya,” katanya.

Saifuddien menegaskan, kasus pembobolan BNI ini murni karena masalah transaksi ekspor-impor lewat L/C fiktif, bukan masalah L/C yang dijadikan agunan pengucuran kredit. “Kami mengaturnya, transaksi L/C macam ini memang semuanya diatur di kantor cabang. Beda dengan kredit, kalau sampai Rp 15 miliar yang memutuskan atasannya di cabang. Kalau sampai Rp 75 miliar yang memutuskan di sini (pusat) direktur kreditnya. Kalau sampai di atas Rp 150 miliar harus dua direktur plus saya, kalau di atas Rp 150 miliar seluruh dewan direksi yang memutuskan. Kalau transaksi normal L/C, sebagaimana penarikan normal uang di mesin ATM, diputus di cabang. Kalau harus di pusat atau saya, repot,” tutur Saifuddien.

Pengakuan Utang

Ditanya bagaimana penyelesaian terbaik yang diharapkan BNI, Saifuddien menyatakan kasusnya sudah ditangani polisi dan pihaknya tidak bisa main hakim sendiri dalam menyelesaian pengembalian uang BNI yang dibobol para tersangka. Namun demikian Saifuddien membenarkan bahwa Ny Erry atau grup perusahaan Ny Erry sudah membuat akta pengakuan utang dan personal garansi. “Berdasarkan itu akan kami tagih. Iya, termasuk bunganya, kalau dia mau membayarnya,” katanya. Yang jelas Saifuddien berjanji akan berupaya optimal agar uang BNI dapat kembali. (RTS/MAS)

Sabtu, 15 November 2003

http://www.korwilpdip.org/BNI-2.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

    Perihal

    Kebenaran hanya dapat disalahkan, tetapi tidak dapat dikalahkan, Allah akan buktikan kebenaran itu Mutlak

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: