Kasus BNI, Polisi Sita Aset 3 Perusahaan Senilai Rp 1 Triliun

SUARA MERDEKA

JAKARTA-Polisi terus melakukan penyitaan aset sejumlah perusahaan terkait kasus pembobolan BNI Rp 1,7 triliun. Dari 3 perusahaan, yakni PT Petindo, PT Gramarindo, dan PT Mahesa, diperkirakan dana yang disita senilai Rp 1 triliun.

“Tapi itu bila aset-aset perusahaan tersebut tidak bermasalah. Karena itu, kita menunggu hasil audit BPK dan BNI,” kata Kepala Bidang Humas Mabes Polri Irjen Basyir Ahmad Barmawi kepada wartawan di kantornya, Jl Trunojoyo, Jakarta, Jumat.

Aset-Aset yang disita tersebut anatara lain dari PT Gramarindo berupa tanah seluah 31 hektare di Cilincing, Jakarta Utara. Tanah dan rumah seluas 1,1 hektare di Puri Mutiara, tanah Bukit Marmer seluas 66 hektare di NTT, serta pabrik dan mesin marmer di NTT.

Selanjutnya tanah dan pabrik di NTT, beberapa saham di PT Sumber Sarana BC, PT Brokolin, PT Sukses Besar, PT Halindo, PT DE Konsorsium, dan PT Inviniti. Polisi juga menyita uang tunai dan rekening koran PT Gramarido dari PT Brokolin, termasuk uang tunai milik Maria Pauline dan sitaan berbentuk tagihan di PT Steady Safe.

Dari PT Petindo, polisi menyita aset tetap dari gedung sortiran berbentuk permanen, konstruksi baja, dua pabrik pengolahan kentang dan wortel, sejumlah bangunan kantor, supermarket, gedung pembibitan, gedung produksi, pabrik tepung, peralatan mesin, TV Manado, tanah, traktor, dan kendaraan bermotor.

Juga disita uang tunai dari 2 rekening atas nama PT Petindo di Manado, dan rekening atas nama PT Petindo di Jakarta, serta 13 berkas transaksi L/C.

Sedangkan dari PT Mahesa, disita gedung Menara Imperium berlantai 8,3 unit mobil dan sejumlah dokumen rekening koran PT Mahesa dan 11 kertas transaksi L/C.

“Seandainya setelah dilakukan audit barang-barang ini tidak bermasalah, total nilainya sekitar Rp 1 triliun. Jadi, ini bukan harga mati. Karena ditengarai tanah di NTT merupakan tanah adat. Jadi, kita memang harus menunggu hasil audit BPK dan BNI,” ungkap Basyir.

Dituturkan Basyir, penyidik juga sedang membuka akses di Singapura dan Roma ke tempat-tempat fasilitator yang menghubungkan BNI dan opening bank di luar negeri. Untuk Singapura adalah perusahaan Catmus dan Capital Gain. Sedangkan di Roma adalah Gasari dan Remopista.

“Kita memang belum mempunyai akses ke sana, tapi kita harus membuktikan kenapa ada jalur uang ke sana. Karena Edi Santoso (mantan Kepala Costumer Service Luar Negeri BNI Kebayoran Baru) melakukan pengiriman ke tempat-tempat tersebut,” ungkapnya.

Sementara itu, informasi lain yang diterima detikcom, salah satu perusahaan fasilitator itu ada yang menerima dana 20 persen dari nilai L/C yang dikucurkan oleh Edi Santoso. Namun tidak diketahui untuk apa dana tersebut.

“Sebab, untuk melakukan tindakan serupa, sebuah perusahaan fasilitator biasanya hanya menerima pembayaran 2 persen hingga 3 persen dari nilai L/C yang dikucurkan. Ini yang sedang kita kejar,” kata perwira di Mabes Polri ini.

Sedang Identifikasi

Sementara itu, Polda Jateng kini terus mengembangkan pengusutan kasus pembobolan dana Rp 24 miliar melalui letter of credit (L/C) fiktif di Bank BNI Magelang. Setelah menangkap pimpinan cabang Bank BNI Tuti Andrasih, kini proses penyelidikan polisi mengarah ke tersangka lain yang diduga terlibat, baik yang sekadar membantu maupun otak pelakunya.

Hal itu disampaikan Kapolda Irjen Pol Drs Didi Widayadi MBA, usai peresmian gedung Mapolresta Tegal, kemarin. ”Berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan yang kami lakukan, sekarang sudah mengarah kepada tersangka yang terlibat, baik mereka yang turut membantu maupun otak pelakunya,” kata dia.

Kapolda mengatakan, kasus pembobolan yang merugikan uang negara hingga Rp 24 miliar itu menggunakan modus yang sama dengan kasus BNI Jakarta. Bahkan, dia menyinyalir, ada keterkaitan antara BNI Jakarta dan BNI Magelang.

”Kasus ini modusnya mirip BNI Jakarta dan memang ada hubungannya. Kami menangkap satu pelaku utamanya. Soal nanti bagaimana proses hukum selanjutnya, bergantung pada peran masing-masing. Jelas ada gradasinya, apakah dia turut membantu atau tidak,” ucapnya.

Kapolda tidak memerinci hubungan antara kasus BNI Jakarta dan BNI Magelang menyangkut para tersangka atau tidak. Yang jelas dia menegaskan, pihaknya tidak akan menoleransi siapa pun yang terlibat.

Sebagaimana diberitakan (SM, 5/2), Polda Jateng telah menangkap Pimpinan Cabang Bank BNI Magelang Tuti Andrasih yang diduga ikut terlibat dalam kasus pembobolan Rp 24 miliar melalui L/C fiktif di suatu wilayah Jateng. Polisi kini sedang melakukan pengejaran tersangka lain berinisial Y. Kasus itu juga melibatkan sejumlah perusahaan yang diduga fiktif di Magelang. (dtc,G12-5833t,n)

http://www.suaramerdeka.com/harian/0402/07/nas2.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

    Perihal

    Kebenaran hanya dapat disalahkan, tetapi tidak dapat dikalahkan, Allah akan buktikan kebenaran itu Mutlak

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: